Kamis, 26 November 2009

Kesulitan Belajar Anak

Definisi Kesulitan Belajar
Aktifitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat, terkadang semangatnya tinggi, tetapi juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Demikian kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktifitas belajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama, perbedaan individu ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku dikalangan anak didik. “dalam keadaan di mana anak didik / siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar merupakan kekurangan yang tidak nampak secara lahiriah. Ketidak mampuan dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang yang tidak mengalami masalah kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena factor intelligensi yang rendah (kelaianan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan karena faktor lain di luar intelligensi. Dengan demikian, IQ yang tingi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai hasil belajar.

Klasifikasi dan Karakteristik Anak Bekesulitan Belajar
Jenis kesulitan belajar ini dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut :
1. Dilihat dari jenis kesulitan belajar
o ada yang berat
o ada yang sedang
2. Dilihat dari bidang studi yang dipelajari
o ada yang sebagian bidang studi yang dipelajari, dan
o ada yang keseluruhan bidang studi.
3. Dilihat dari sifat kesulitannya
o ada yang sifatnya permanen / menetap, dan
o ada yang sifatnya hanya sementara
4. Dilihat dari segi factor penyebabnya
o ada yang karena faktor intelligensi, dan
o ada yang karena faktor bukan intelligensi
Dari berbagai klasifikasi yang telah dikemukakan para ahli, pada hakekatnya kesulitan belajar pada anak dapat dklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, yaitu:
a) Kesulitan akademik (academic learning disabilities). Kesulitan ini menunjuk kepada hambatan pencapaian akademik sesuai kapasitas yang harapkan dari seorang anak.

Secara terurai jenis-jenis kesulitan belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a) Disfungsi Minimal Otak
DMO itu sendiri sesuai harfiahnya adalah suatu keadaan kurang berfungsinya sebagian kecil dari otak kita tapi menimbulkan akibat yang cukup besar. Ketidakberfungsian ini muncul dalam berbagai kombinasi kesulitan seperti persepsi, konseptualisasi, bahasa, memori, pengendalian perhatian, dorongan. Simptom spesifik DMO dapat dilihat dari beberapa bentuk, yaitu :
1) Kelemahan dalam persepsi dan pembentukan konsep
• Sulit membedakan ukuran
• Sulit menentukan titik ruang
• Sulit memperkirakan jarak
2) Gangguan berbicara dan komunikasi
• Perkembangan bahasa lamban
• Seringkali kehilangan pendengaran
• Seringkali berbicara tidak teratur
3) Gangguan fungsi motorik
• Sering gemetar atau menunjukan kekakuan gerak
• Hiveraktifitas
• Hipoaktifitas (anak yang lamban)
4) Gangguan akademik
• Ketidakcakapan membaca
• Ketidakcakapan berhitung
• Ketidakcakapan mengeja
• Ketidakcakapan menulis
• Kelambanan menyelesaikan tugas
• Kebimbangan memahami instruksi

5) Karakteristik emosional
• Impulsif. Bertindak impulsif berarti bertindak tanpa berpikir/memikirkan tindakan itu terlebih dahulu.
• Eksplosif (cepat marah)
• Kelemahan kendali emosi dan dorongan
• Toleransi rendah terhadap frustasi

6) Gangguan proses berpikir
• Ketidakcakapan berpikir abstrak
• Umumnya berpikir kongkrit
• Kesulitan membentuk konsep

b) Dyslexia
Dyslexia adalah ketidakcakapan membaca. Adapun gejala yang muncul antara lain :
• Membaca dengan sangat lambat dan dengan enggan
• Menyusuri teks pada halaman buku dengan menggunakan jari telunjuk.
• Mengabaikan suku kata, kata-kata, frase, atau bahkan baris teks.
• Menambahkan kata-kata atau frase yang tidak ada dalam teks.
• Membalik urutan huruf atau suku kata dalam sebuah kata
• Salah dalam melafalkan kata-kata, termasuk kata-kata yang sudah dikenal
• Mengganti satu kata dengan kata lain, meskipun kata yang digantikan tidak mempunyai arti dalam konteksnya.
• Menyusun kata-kata yang tidak mempunyai arti.
• Mengabaikan tanda baca.
Mengatasi problem dyslexia :
Biasakan untuk membaca setiap hari; jangan memaksa atau bersikap berlebihan; mulailah sediki.t demi sedikit; ajak membaca bersama, ketika akan tidur; berikan pujian agar ia bersemangat.
Pengajaran remidial membaca bagi penderita dyslexia:
• Metode Fernald, kinesthic and tactile (menelusuri tulisan); visual(melihat tulisan); auditory(pengucapan tulisan dengan keras). Lakukan secara berulang-ulang.
c) Dysgraphia
Kesulitan khusus di mana anak tidak bisa menuliskan/mengekspresikan pikirannya ke dalam bentuk tulisan, karena mereka tidak bisa menyusun huruf/kata dengan baik dan mengkoordinasikan motorik halusnya (tangan) untuk menulis. Pada anak-anak umumnya, kesulitan ini bisa terlihat saat anak mulai belajar menulis. Kesulitan ini tidak tergantung kemampuan lainnya. Seseorang bisa sangat fasih dalam berbicara dan keterampilan motorik lainnya, tapi mempunyai kesulitan menulis.
Beberapa gejala yang terlihat :
• anak bisa berbicara dengan baik, tapi menulis dengan jelek
• mengeja dengan salah (kata dieja berbeda), terbalik, bunyi yang hampir sama, menghilangkan bunyi.
• salah mengerti pertanyaan atau kuis.
• salah mengurutkan angka dan terbalik menulis angka
• secara umum tidak mampu menulis (dengan waktu dan perhatian yang diberikan untuk itu)
• tidak konsisten : mencampuradukkan huruf, huruf besar dan kecil, ukuran huruf yang tidak teratur, bentuk huruf tidak teratur, bentuk benda yang tidak beraturan ukurannya.
• Tidak menyelesaikan kata atau huruf-huruf yang ditulisnya.
• Posisi menulis yang tidak konsisten pada halaman kertas dibandingkan garis dan batas kiri/kanan kertas.
• spasi yang tidak beraturan di antara huruf dan kata
• cara memegang pensil yang tidak biasa (karena pengaruh motorik halus), terutama memegang pensil sangat dekat dengan kertas atau jari jempol menutupi dua jari dan menulis dengan pergelangan tangan
• Bicara sendiri dengan keras saat menulis atau sangat memperhatikan tangan saat menulis
• Lambat dan sangat susah mencatat dan menulis, walaupun dari material yang sangat rapi dan mudah
• Kesulitan berpikir dan menulis pada saat yang sama (mencatat, mengarang)
• kesulitan membayangkan formasi huruf
Pengajaran remedial menulis bagi penderita dysgraphia :
• Menulis permulaan atau menulis dengan tangan
d) Discalculia
Diskalkulia adalah kesulitan untuk melakukan hitungan matematik. Diskalkulia bisa terjadi pada siapapun dan tidak tergantung pada intelektualnya (IQ), di mana mereka mengalami kesulitan dengan waktu, pengukuran, dan pemikiran sebab akibat.
• kesulitan dengan aritmatika, bingung dengan tanda : + - : x (kesulitan mengenali pola ketika menjumlah, mengurangi, mengalikan, membagi)
• kesulitan mengerti konsep nilai, jumlah, urutan angka, angka positif dan negatif
• kesulitan mengurutkan informasi atau peristiwa
• kesulitan menggunakan langkah-langkah dalam operasi matematika
• kesulitan mengerti bagian-bagian (setengah, sepertiga, seperempat)
• Tidak mampu menyatakan angka mana dari 2 angka berbeda yang nilainya lebih tinggi
• Kesulitan dengan tugas sehari-hari seperti menghitung uang kembalian atau membaca jam analog
• kesulitan dengan konsep waktu dan mengukur berapa lama waktu (hari, minggu, jam, setengah jam, seperempat jam)
• kesulitan dengan arah kiri dan kanan, utara, selatan, timur, barat, walaupun dengan bantuan kompas
• kesulitan memperkirakan ukuran suatu benda atau jarak
• kesulitan membaca urutan angka, atau membalik angka ketika diulang, misalnya 56 jadi 65.

Pengajaran remedial matematika bagi penderita dyscalculis:
• menyiapkan anak untuk belajar matematika
• maju dari kongkrit ke abstrak
• menyediakan kesempatan untuk berlatih
• penggunaan kalkulator.

e) Aphasia
Aphasia menunjuk kepada kondisi kesulitan dalam menguasai ucapan-ucapan yang bermakna. Ketidakcakapan ini dapat dijelaskan karena faktor ketulian, keterbelakangan mental, atau faktor lingkungan. Secara garis besar aphasia dibagi dalam tiga kelompok besar, yaitu:
1) Reseptive aphasia
• Tidak dapat mengidentifikasi apa yang didengar
• Kemiskinan kosakata
• Tidak memahami makna gambar
• Tidak dapat memahami apa yang dibaca
2) Expressive aphasia
• Jarang bicara di kelas
• Kesulitan meniru
• Berbicara dengan ide yang di maksud
• Ketidakcakapan menggambar dan menulis
3) Inner aphasia
• Tidak mampu melakukan asosiasi berpikir abstrak
• Memberi respon yang tidak sesuai
• Lamban merespon
f) Kelemahan perseptual atau perseptual-motorik,
Kedua kelemahan ini menujuk kepada masalah yang sama, yaitu sulit mengkoordinasikan antara persepsi dengan kegiatan motorik
Karakteristik Anak Berkesulitan Belajar
Ciri anak berkesulitan belajar dapat dilihat dari tiga karakteristik, yaitu :
a) Karakteristik akademik
Disamping memiliki ciri umum, mereka juga memiliki beberapa ciri-ciri seperti hiperaktif atau hipoaktif.
b) Karakteristik medis
Anak yang berkesulitan belajar sering mengalami masalah yang berhubungan dengan mental, seperti ketajaman penglihatan, pendengaran, nutrisi, kadangkala mereka mengalami penurunan gula darah (hipolisema).
c) Karakteristik psikologis
Gangguan keseimbangan, gangguan koordinasi, gangguan body image dan gangguan literasi merupakan masalah mendasar yang dialami anak berkesulitan belajar. Hal ini dapat mempengaruhi gangguan pandang yang menimbulkan gangguan konsentrasi serta gangguan persepsi. Jika persepsi terganggu maka timbul kesulitan dalam membedakan bentuk gerak dan perintah, sehingga menyebabkan mermori terganggu dan akhirnya anak mengalami kesulitan membaca, menulis, dan berhitung.
Karakter murid yang mengalami kesulitan belajar dapat dilihat juga dari kecenderungan pada empat aspek, yaitu aspek bahasa, aspek kognitif, aspek motorik, aspek sosial-emosi.

2.2 Faktor-faktor yang Menimbulkan Anak Berkesulitan Belajar
Faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu :
a) Faktor internal : disfungsi neurologis (faktor genetik, luka pada otak, biokimia yang hilang atau yang dapat merusak, serta giji yang tidak memadai.
b) Faktor eksternal : strategi pembelajaran yang keliru, cara orang tua mendidik di rumah, kodisi tempat belajar serta
Layanan bimbingan bagi anak berkesulitan belajar
a) Layanan remediasi, yaitu layanan untuk mengurangi atau menghilangkan kesulitan belajar.
b) Layanan kompensasi, yaitu mengmbangkan kondisi pembelajaran khusus di luar kondisi normal yang memungkinkan anak memperoleh kemajuan yang memuaskan.
c) Prevensi, yaitu langkah untuk murid sebulum mengalami kesulitan belajar di sekolah.

Pada dasarnya semua anak memiliki kemampuan, walaupun mungkin saja kemampuan yang dimiliki berbeda satu dengan yang lainnya. pada tingkat pendidikan dasar berbagai kemampuan tersebut masih memiliki relasi yang kuat, membaca, menulis, serta berhitung. Masalah yang mungkin ada pada pada salah satu kemampuan tersebut dapat menggangu kemampuan yang lain. Dengan demikian apa yang kita sering lakukan baik sebagai seorang orang tua, ataupun seorang guru dengan mengatakan seorang anak yang mendapatkan nilai yang rendah merupakan anak yang bodoh dan gagal perlu menjadi perhatian kita. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa mungkin saja anak hanya mengalami gangguan pada salah satu kemampuan tadi, dan ia tidak tahu bagaimana mengatasi masalah tersebut.
Untuk itu, alangkah baiknya jika kita dapat menelaah dengan baik perkembangan anak. Dengan demikian kita akan mengetahui kesulitan belajar apa yang dialami anak, sehingga kita dapat menentukan alternatif pilihan bantuan bagaimana mengatasi kesulitan tersebut

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar