Kamis, 26 November 2009

Meningkatkan Keterampilan Menulis

A. Susunan Tulisan
Sebuah tulisan di bentuk oleh paragraf-paragraf, sedangkan paragraf dibentuk oleh kalimat-kalimat. kalimat yang dirangkai harus saling berkaitan sehingga membentuk suatu gagasan. kalimat itu sendiri dibentuk dari kata-kata.
KATA-KALIMAT-PARAGRAF-TULISAN
Paragraf yang baik harus memenuhi 3 syarat, yaitu:
1. Kesatuan (kohesi), semua kalimat yang membina paragraf secara bersama-sama menyatakan satu tema yang sama.
2. Kepaduan (koherensi) yaitu, kekompakan antar kalimat di dalam paragraf.
3. Pengembangan paragraf yaitu, penyusunan atau perincian dari gagasan yang membina paragraf itu.

B. Menulis Nonfiksi

Ciri-ciri karangan nonfiksi bersifat empirik (dapat dibuktikan secara empiris),dibangun berdasarkan kenyataan, dan mempunyai aturan dalam penulisannya.
Macam-macam karangan nonfiksi:
1. Surat
Surat terbagi menjadi dua yaitu, surat pribadi dan surat dinas. Dalam penulisan surat pribadi terdapat titimangsa, alamat yang dituju, salam, isi, salam penutup, dan salam penutup dan tanda tangan pengirim surat. Sedangkan dalam surat dinas terdapat KOP/kepala surat yang berisi alamat lembaga, no, lampiran, hal, isi, titimangsa, dan keterangan pengirim surat.
2. Iklan
Iklan sebenarnya sama dengan pengumuman, hanya saja iklan mengandung unsur komersil. Iklan adalah pengumuman dari pembuat barang dengan tujuan memberitahukan produknta kepada konsumen. Ada beberapa macam iklan antara lain:
• Iklan keluarga
• Iklan pengumuman
• Iklan tenaga kerja
• Iklan jual beli
• Iklan propoganda
3. Pengumuman
Pengumuman adalah pemberitahuan yang harus diketahui orang banyak. Tujuannya agar orang banyak mengetahui perihal yang diumumkan. Berbagai pengumuman sering kita lihat. Di papan pengumuman sekolah, di terminal, dan di tempat umum lainnya.
4. Surat pembaca
Surat pembaca adalah surat yang dibuat oleh pembaca yang ditujukan kepada redaksi.
5. Surat permohonan
Surat permohonan adalh surat yang brisi permintaan atau permohonan baik kepada perorangan atau kelompok.
6. Pidato
Pidato dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, yaitu dengan membaca naskah pidato, menggunakan garis besar atau tanpa naskah. Ada beberapa langkah untuk menyusun naskah pidato, yaitu:
• Menentukan maksud dan tujuan pidato
• Menentukan pokok permasalahan
• Menyusun naskah pidato
7. Laporan
Laporan adalah suatu dokumen yang memuat informasi trtentu yang telah dikumpulkan dan disusun. Contoh laporan diskusi.
Laporan Diskusi

1. Waktu :
2. Tempat:
3. Topik :
4. Pemimpin diskusi :
5. Notulis :
6. Peserta :

Hasil diskusi
• Pertanyaan
• Jawaban


C. Menulis Fiksi
Pembelajaran menulis (mengarang) sebenarnya sudah dimulai sejak anak duduk di kelas 1 SD. Anak belajar menggambar lalu ia menuliskan beberapa kalimat mengenai gambarnya itu selanjutnanya, syarat-syarat mengarang dapat diajarkan berangsur-angsur. Yang terpenting adalah kita dapat memacu spontanitas atau keberanian anak dalam mengungkapka gagasan dan isi hatinya melalui media tulisan.
Materi menulis fikasi di kelas tinggi mencakup materi berikut :
1) Menulis karangan berdasarkan rangkaian gambar seri
2) Melanjutkan cerita narasi
3) Menulis cerita rekaan berdasarkan pengalaman
4) Melanjutkan isi pantun
5) Menyusun karangan dari gambar seri yang diacak
6) Menulis prosa sederhana
7) Menulis puisi bebas
8) Memparafrasekan puisi
9) Menulis drama sederhana
Pembelajaran menulis fiksi harus mempunyi tujuan yang jelas. Bahan pembelajarannya pun harus sesuai dengan karakteristik siswa, berkaitan dengan perkembangan jiwa serta lingkungan siswa. Jangan biarkan anak menulis mengenai sesuatu yang belum ia ketahui, Oleh karena itu berikan kesempatan untuk anak memilih topik yang diceritakannya.
Penilaian menulis fiksi harus diupayakan untuk memotivasi bukan untuk menghakimi. Yang kita lakkukan bukanlah menjadikan anak sebagai seorang penyair, pujangga, penulis novel atau penulis skenario, akantetapi disini kita berusaha untuk menciptakan sikap dan persepsi positif kepada anak, sehingga anak senang menulis. Penilaian karangan sebaiknya berupa fortopolio yang diberikan komentar. Anak akan merasa dihargai ketika karyanya diberikan apresiatif, ketimbang hanya diparaf saja.


D. Model-model Pembelajaran Menulis Fiksi
Menulis (mengarang) fiksi di SD kelas tinggi mencakup ketiga genre sastra yaitu mengarng puisi, cerpen, dan drama. Dalam pelaksanaannya, mengarang ketiga bentuk sastra anak tersebut memerlukan strategi tersendiri sesuai dengan karakteristik siswa usia SD, yaitu belajar sambil bermain.

1. Contoh Model-model Pembelajaran Mengarang Puisi
a) Menulis bersama
• Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok masing-masing dua orang.
• Siswa pertama menuliskan judul dan baris pertama puisi. Jumlah kata dalam setiap baris ditentukan terlebih dahulu.
• Kerts kerja siswa pertama diberikan kepada temannya.
• Temannya membaca judul dan baris pertama tadi, kemudian menulis baris kedua dengan jumlah kata yang sama, berhubungan dengan baris pertama.
• Kertas dikembalikan ke siswa pertama, ia menuliskan baris ketiga, lalu kembali kepada temannya. Begitu seterusnya sampai jumlah baris yang diinginkan selesai ditulis.
• Bacakan puisi di depan kelas oleh seorang siswa dari kelompoknya.

b) Menulis Cita –cita
Guru mengarahkan agar keinginan atau harapan siswa diungkapkan ke dalam puisi. Guru dapat membantu dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, misalkan “Apa cita-cita kalian jika sudah besar nanti?”

c) Menulis Imajinasi
Siswa diajak mengembangkan daya imajinasinyatentang sesuatu yang aneh tapi dikenalnya. Guru perlu membantu mmengembangkan imajanasi siswa, misalnya “Anak-anak bagaimana seandainya kita memelihara Dinosaurus di rumah kita? Bagaimana tetangga dan daerah sekitar kamu? Tulis apa yang kalian bayangkan kedalam bentuk puisi. Kamu boleh membayangkan benda lain.”

d) Puisi Namaku
Siswa membuat puisi dari nama mereka masing-masing. Langkah-langkahnya :
• Susun ke bawah huruf-huruf namamu
• Huruf awalmu menjadi huruf awal kalimat setip baris puisi
• Setiap kalimat harus berkesinambungan dengan kalimat lain sebelumnya
• Tentukan judul yang sesuai dengan apa yang diceritakan
Contoh :
Desaku

Aku tinggal di desa
Di desaku ada sawah, gunung, dan sungai
Indah sekali pemandangannya
Kami sangant mencintai desaku
Aku akan selalu menjaga desaku

e) Menyusun Abjad
Puisi abjad disusun ke bawah dari A sampai Z. Tiap huruf merupakan awal baris puisi.

Contoh :

Aku Anak Ceria
Aku anak sekolah yang ceria
Bergembira selalu sepanjang waktu
Cemerlang dalam belajar
Dan tekun membina ilmu
Engkau Bu Guru, karenamu aku berilmu
Guruku selama-lamanya, sampai akhir hayat.

f) Puisi dari Gambar
Guru memperlihatkan gambar kepada siswa. Ajukan pertanyan-pertanyan bimbingan tentang gambar itu, misalnya :
“ Gambar apa ini? Dimana ini terjadi? Apa saja yang kamu lihat pada gambar ini?” Jawaban siswa yang beragam dijadikan kerangka untuk membuat sebuah puisi.

g) Membayang Peristiwa
Model ini menuntut keahlian guru dalam memberi gambaran objek untuk merangsang imajinasi siswa. Contoh :
Guru mebceritakan penglamannya ketika naik gunung, ketika sampai di puncak ibu melihat ke bawah. Tutup matamu. Bayangkan apa yang bisa kamu lihat ke bawah, anak-anak dibiarkan menutup mata kurang lebih lima menit.
• Apa yang kau lihat?
• Aku takut
• Di bawah gunung sangat indah
• Dll.
Hasil pembayangan siswa disusun menjadi sebuah puisi.

h) Mengamati Lingkungan
Siswa diajak mengamati lingkungan sekitar sekolah. Siswa harus mengamati apa yang mereka senangi. Setelah selesai, mereka diajak menulis hasil temuannya ke dalam bentuk puisi.

i) Puisi Lamunan
Siswa diajak mengembangkan imajinasinya melamunkan sesuatu (misalnya, hewan peliharaan atau apa saja) kira-kira 10 menit. Kemudian menuliskan hasil lamunannya ke dalam bentuk puisi.

j) Meniru Model Puisi yang Sudah Jadi
Siswa mengumpulkan kliping beberapa puisi anak-anak dari majalah atau koran. Siswa secara kolompok membaca puisi ada dalam klipingnya. Siswa kelompok satu membaca puisi kelompok siswa lainnya. Siswa harus memahami isi dan unsur-unsur puisi secara berkelompok. Sesudah paham, siswa secara perorangan diberi tugas membuat puisi bertema sama tapi menggunakan kata-kata sendiri.

k) Meneruskan Puisi
Siswa diberi puisi yang belum sempurna. Puisi bagian belakang dihilangkan. Siswa harus membaca dan memprediksi kelanjutan puisi tersebut. Siswa menuliskan kelanjutan puisi tersebut sesuai dengan tema yang sudah ada dalam bagian awal puisi.

l) Menceritakan Mimpi
Siswa mengingat-ingat mimpi yang pernah dilaluinya. Hasil mengingat dicatat dalam bentuk kerangka karangan dalam buku catatan. Kemudian menyusun kerangka karangan menjadi puisi.

2. Model-model Pembelajaran Mengarang Cerpen
a) Menceritakan Gambar
Siswa membuat sebuah cerita berdasarkan gambar peristiwa yang dapat disusun menjadi sebuah cerita lengkap. Siswa harus mengamati gambar tersebut dengan bimbingan pertanyaan. Jawaban pertanyaan tadi merupakan kerangka cerita yang akan dikembangkan siswa. Setelah selesai, tulisan direvisi dan disunting dengan teman lainnya dalam kelompok.

b) Melanjutkan Cerita
Guru memberikan cerita yang belum selesai, kemudian siswa melanjutkan cerita itu dengan memberikan rambu-rambu, misal: Dia anak yang rajin, sopan, dan hormat pada guru dsb.

c) Awali Cerita
Siswa diajak membuat beberapa paragraf awal cerita yang sudah disediakan guru tetapi paragraf awalnya dikosongkan. Siswa mengisi bagian awal dan harus terangkai dengan baik pada cerita bagian akhir yang sudah disediakan guru.

d) Ganti Tokoh
Tujuan mengarang cerita model ini untuk memahamkan tokohpada waktu mengarang cerita. Siswa harus mengganti tokoh dalam ceritannya baik dengan nama-nama yang pernah mereka kenal atau berdasarkan sudut pandang penceritaan.


e) Ganti Setting
Siswa dapat lebih mengenal waktu dan setting sebuah cerita. Kegiatannya, siswa diberi cerita yang settingannya dikosongkan untuk diisi oleh siswa.

f) Mengurutkan Plot
Tujuan kegiatan ini agar siswa dapat menbuat sebuah cerita dengan urut. Langkahnya, guru membagi amplop berisi potongan plot pada masing-masing kelompok. Siswa mengidentifikasi, mendiskusikan dan menyalin susunan plot yang sudah disusun dalam bentuk tulisan.

g) Menceritakan Mimpi
Guru memberi gambaran bahwa cerita itu dapat ditambah atau dikurangi supaya jelas alurnya. Biarkan siswa menyusun cerita sesuai dengan keinginannya.

h) Menceritakan Pengalaman
Pengalaman yang diceritakan dapat berupa pengalaman sehari-hari atau pengalaman menarik. Panduan yang diberikan guru adalah sebagai berikut :
Contoh
• Pernahkah kamu melakukan perjalanan/?
• Coba ceritakan, dengan siapa kamu pergi ? kemana? Dsb

i) Menceritakan Cita-cita
Dalam penulisan cerpen yang sumbernya dari cita-cita siswa, masih memerlukan bimbingan guru, karena mungkin saja ia hanya akan menuliskan beberapa beris kalimat saja. Siswa harus diajak untuk menjawab pertanyaan sendiri :
Apa cita-cita kamu? Mengapa kamu memilih cita-cita itu? Dll. Jawaban akan dijadikan kernagka karangan.

3. Model-model Pembelajaran Drama
a) Meniru Model Drama
Kegiatannya diawali dengan membaca atau mendengarka naskah drama yang ada. Siswa secara berkelompok harus memahami naskah drama yang dibacakan pada mereka, kemudian menulis lagi sebuah drama sesuai dengan drama yang dibacakan dengan kata-kata sendiri.

b) Melanjutkan Naskah Drama
Siswa diberi naskah drama yang tidak lengkap, bagian akhirnya dihilangkan. Siswa secara berkelompok harus memahami dan meneruskan dengan kata-kata sendiri sesuai dengan alur awal yang dibaca.

c) Mencatat Dialog Sosiodrama
Model ini siswa diminta mencatat atau merekam dialog yang diucapkan temannya. Dilakukan secara berkelompok, siswa berbagi tugas. Lalu melengkapi dialog tersebut dengan unsur lain. Kegiatan ini dilakukan di rumah.

d) Mencatat Dialog Suatu Benda
Model ini dialog dirangsang dengan menggunakan suatu benda yang mudah dipreoleh dari lingkungan sekitar.



Contoh :
• Guru memperlihatkan sebuah benda
• Panggil dua orang siswa umtuk berdialog tentang benda itu di depang kelas.
• (a) benda apa itu?
• (b) bunga
• (a) bunga apa? Dst

e) Menulis Dialog Boneka
Pembelajaran model ini hampir sama kegiatannya dengan kegiatan mencatat dialog tentang suatu benda. Di sini benda itu diganti dengan boneka.

f) Mengarang Drama dari Cerpen
Diawali dengan kehiatan membaca cerpen. Siswa harus mengapresiasi unsur-unsur cerita dan karakter setiap tokoh. Setelah siswa memahami karakter dan alur cerpen, siswa menulis cerita menjadi drama dalam bentuk teks drama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar